Proses Mikrobiologi Dalam Penguraian Anaerob





Kumpulan mikroorganisme, umumnya bakteri, terlibat dalam transformasi senyawa komplek organik menjadi metan. Lebih jauh lagi, terdapat interaksi sinergis antara bermacammacam kelompok bakteri yang berperan dalam penguraian limbah. Keseluruhan reaksi dapat digambarkan sebagai berikut (Polprasert, 1989) :

senyawa Organik → CH4 + CO2 + H2 + NH3 + H2S

Meskipun beberapa jamur (fungi) dan protozoa dapat ditemukan dalam penguraian anaerobik, bakteri bakteri tetap merupakan mikroorganisme yang paling dominan bekerja didalam proses penguraian anaerobik. Sejumlah besar bakteri anaerobik dan fakultatif (seperti : Bacteroides, Bifidobacterium, Clostridium, Lactobacillus, Streptococcus) terlibat dalam proses hidrolisis dan fermentasi senyawa organik. Proses penguraian senyawa organik secara anaerobik secara garis besar. Ada empat grup bakteri yang terlibat dalam transformasi material komplek menjadi molekul yang sederhana seperti metan dan karbon dioksida. Kelompok bakteri ini bekerja secara sinergis (Archer dan Kirsop, 1991; Barnes dan Fitzgerald, 1987; Sahm, 1984; Sterritt dan Lester, 1988; Zeikus, 1980).

Kelompok Bakteri Metabolik Yang Terlibat Dalam Penguraian Limbah Dalam Sistem Anaerobik.

Kelompok 1: Bakteri Hidrolitik

Kelompok bakteri anaerobik memecah molekul organik komplek (protein, cellulose, lignin, lipids) menjadi molekul monomer yang terlarut seperti asam amino, glukosa, asam lemak, dan gliserol. Molekul monomer ini dapat langsung dimanfaatkan oleh kelompok bakteri berikutnya. Hidrolisis molekul komplek dikatalisasi oleh enzim ekstra seluler seperti sellulase, protease, dan lipase. Walaupun demikian proses penguraian anaerobik sangat lambat dan menjadi terbatas dalam penguraian limbah sellulolitik yang mengandung lignin (Polprasert, 1989; Speece, 1983).

Kelompok 2 : Bakteri Asidogenik

Fermentatif Bakteri asidogenik (pembentuk asam) seperti Clostridium merubah gula, asam amino, dan asam lemak menjadi asam organik (seperti asam asetat, propionik, formik, lactik, butirik, atau suksinik), alkohol dan keton (seperti etanil, metanol, gliserol, aseton), asetat, CO2 dan H2. Asetat adalah produk utama dalam fermentasi karbohidrat. Hasil dari fermentasi ini bervariasi tergantung jenis bakteri dan kondisi kultur seperti temperatur, pH, potensial redok.

Kelompok 3 : Bakteri Asetogenik

Bakteri asetogenik (bakteri yang memproduksi asetat dan H2) seperti Syntrobacter wolinii dan Syntrophomonas wolfei (McInernay et al., 1981) merubah asam lemak (seperti asam propionat, asam butirat) dan alkohol menjadi asetat, hidrogen, dan karbon dioksida, yang digunakan oleh bakteri pembentuk metan (metanogen). Kelompok ini membutuhkan ikatan hidrogen rendah untuk merubah asam lemak; dan oleh karenanya diperlukan monitoring hidrogen yang ketat.

Dibawah kondisi tekanan H2 parsial yang relatif tinggi, pembentukan asetat berkurang dan subtrat dirubah menjadi asam propionat, asam butirat, dan etanol dari pada metan. Ada hubungan simbiotik antara bakteri asetonik dan metanogen. Metanogen membantu menghasilkan ikatan hidrogen rendah yang dibutuhkan oleh bakteri asetogenik.

Etanol, asam propionat, dan asam butirat dirubah menjadi asam asetat oleh bakteri asetogenik dengan reaksi seperti berikut : CH3CH2OH + CO2 → CH3COOH + 2H2 Etanol Asam Asetat CH3CH2COOH + 2H2O → CH3COOH + CO2 + 3H2 Asam Propionat Asam asetat CH3CH2CH2COOH + 2H2O → 2CH3COOH + 2H2 Asam Butirat Asam Asetat Bakteri asetogenik tumbuh jauh lebih cepat dari pada bakteri metanogenik. Kecepatan pertumbuhan bakteri asetogenik (µmak) mendekati 1 per jam sedangkan bakteri metanogenik 0,04 per jam (Hammer, 1986).

Kelompok 4 : Bakteri Metanogen

Penguraian senyawa organik oleh bakteri anaerobik dilingkungan alam melepas 500 – 800 juta ton metan ke atmosfir tiap tahun dan ini mewakili 0,5% bahan organik yang dihasilkan oleh proses fotosintesis (Kirsop, 1984; Sahm, 1984). Bakteri metanogen terjadi secara alami didalam sedimen yang dalam atau dalam pencernaan herbivora. Kelompok ini dapat berupa kelompok bakteri gram positip dan gram negatif dengan variasi yang banyak dalam bentuk. Mikroorganime metanogen tumbuh secara lambat dalam air limbah dan waktu tumbuh berkisar 3 hari pada suhu 35o C sampai dengan 50 hari pada suhu 10o C. Bakteri metanogen dibagi menjadi dua katagori, yaitu : a. Bakteri metanogen hidrogenotropik (seperti: chemolitotrof yang menggunakan hidrogen) merubah hidrogen dan karbon dioksida menjadi metan. CO2 + 4H2 → CH4 + 2H2O Metan Bakteri metanogen yang menggunakan hidrogen membantu memelihara tekanan parsial yang sangat rendah yang dibutuhkan untuk proses konversi asam volatil dan alkohol menjadi asetat (speece, 1983). b. Bakteri metanogen Asetotropik, atau biasa disebut sebagai bakteri asetoklastik atau bakteri penghilang asetat, merubah asam asetat menjadi metan dan CO2. CH3COOH → CH4 + CO2 Bakteri asetoklastik tumbuh jauh lebih lambat (waktu generasi = beberapa hari) dari pada bakteri pembentuk asam (waktu generasi = beberapa jam). Kelompok ini terdiri dari dua kelompok, yaitu : Metanosarkina (Smith dan Mah, 1978) dan Metanotrik (Huser et al., 1982). Selama penguraian termofilik (58o Kurang lebih sekitar 2/3 gas metan dihasilkan dari konversi asetat oleh metanogen asetotropik. Sepertiga sisanya adalah hasil reduksi karbon dioksida oleh hidrogen (Mackie dan Bryant, 1984). Diagram neraca masa pada penguraian zat organik komplek menjadi gas methan secara anaerobik ditunjukkan seperti pada Gambar 2.7. C) dari limbah lignosellulosik, Metanosarkina adalah bakteri asetotropik yang ditemukan dalam bioreaktor. Sesudah 4 minggu, Metanosarkina (µmak = 0,3 tiap hari; Ks = 200 mg/l) digantikan oleh Metanotrik (µmak = 0,1 tiap hari; Ks = 30 mg/l). Secara umum klasifikasi bakteri metanogen dapat dilihat pada Tabel 2.3. (Balch et al, 1979). Metanogen dikelompokkan menjadi tiga order: Metanobakteriales (contoh: Metanobakterium, Metanobreviater, Metanotermus), Metanomikro-biales (contoh: Metanomikrobium, Metanogenium, Metanospirilium, Metanosar-kina, dan Metanokokoid), dan Metanokokales (contoh : Metanokokkus). Paling sedikit ada 49 spesies metanogen yang telah didiskripsi (Vogels et al., 1988). Koster (1988) telah mengkompilasi beberapa bakteri metanogen yang telah diisolasi dan masing-masing substratnya.

klasifikasi metanogen

Sarang Tawon Media Bakteri

Media Bakteri

Proses pengolahan air limbah dengan mengunakan metode biofilter atau biofilm dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah ke dalam bioreaktor atau reaktor biologis yang di dalamnya terdapat  media penyangga untuk membiakan bakteri dengan atau tanpa suplai oksigen. Media biofilter yang digunakan dapat berupa bahan material organik ataupun bahan material anorganik. Untuk media biofilter dengan bahan material organik misalnya dalam bentuk tali, bentuk jaring, bentuk butiran tak teratur, bentuk papan, bentuk sarang tawon, dsb. Sedangkan untuk media biofilter dengan bahan material anorganik misalnya batu pecah, kerikil, batu marmer, batu tembikar, batu bara, dsb.

Dalam melakukan penentuan media penyangga yang merupakan komponen terpenting dalam proses biofilter dapat memperhatikan kriteria sebagai berikut :

  • Mempunyai luas permukaan spesifik besar, yaitu ukuran seberapa besar luas areayang aktif secara biologis tiap satuan volume media. Secara umum sebagian besar media biofilter mempunyai nilai antara 30-250 sq.ft/cu.ft atau 100-820 m2/m3. Luas media penyangga berpengaruh terhadap biaya, mekanisme penunjang, kemampuan penyrapan polutan. Tabel di bawah ini adalah perbandingan luas permukaan spesifik media biofilter.                                                                                                              
  • Mempunya fraksi volume rongga tinggi, yaitu persentase ruang terbuka dalam media. Fraksi volume rongga berkisar antara 15-98 %
  • Diameter celah bebas besar, yaitu ukuran partikel paling besar yang dapat melewati media
  • Tahan terhadap penyumbatan, penyebab penyumbatan pertumbuhan biomasa, ketidak seragaman volume rongga dari media.
  • Terbuat dari bahan Inert, tidak korosif, tahan terhadap pembusukan dan perusakan secara kimia.
  • Harga perunit luas permukaanya murah
  • Mempunyai kekuatan mekanik yang baik
  • Ringan
  • Fleksibilitas, untuk mempermudah masuknya media kedalam reaktor.
  • Pemeliharaan mudah
  • Kebutuhan energi kecil, untuk suplai oksigen ataupun pompa sirkulasi.
  • Reduksi cahaya, bakteri nitrifikasi sensitife terhadap cahaya maka sebaiknya menggunakan media berwarna gelap.
  • Sifat kebasahan

Salah satu contoh media bakteri yaitu honeycomb, dimana media ini termasuk kedalam jenis media terstruktur dengan bahan konstruksi berupa lembaran PVC (Polyvinyl chloride). Bahan PVC relatife merupakan resin murah dengan sifat mekanik yang lebih baik dibandingkan dengan bahan PP (Polypropylene) dan HDPE (High Density Polyethylene). PVC pada awalnya bersifat hidrphobic (tidak suka air) namun biasanya menjadi basah atau mempunyai sifat kebasahan yang baik dalam waktu satu sampai dua minggu.

PT. Banyu Biru Berkah Sejati memiliki produk media biofilter dengan kualitas yang baik dan telah memenuhi standar. Dimana untuk jenis media yang diproduksi adalah honeycomb dengan bahan PVC. Hubungi kami bila berminat

0811 2229772
081910488630
banyubiruberkahsejati@gmail.com
konsultanipalbandung@gmail.com
www.banyubiruberkahsejati.co.id

Bioreaktor

Bioreaktor merupakan suatu alat atau tempat dimana terdapat suatu proses biologi di dalamnya. Proses biologi itu terjadi berkat adanya mikroorganisme dan komponen pendukung lainnya. Proses biologi ini sangatlah penting karena merupakan tujuan utama agar dapat menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan dari air limbah yang diolah. Mikroorganisme yang digunakan baik itu bakteri anaerob atau bakteri aerob. Bakteri memiliki fase dalam proses pengolahan biologi, yaitu terdiri dari empat fase yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Urutan fase tumbuh bakteri :

  1. Fase Adaptasi (Lag Phase)

Merupakan fase dimana bakteri beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Proses adaptasi ini berlangsung dari mulai satu jam sampai dengan beberapa hari. Kemampuan beradaptasi bakteri bergantung pada :

  1. Jenis bakteri
  2. Umur biakan
  3. Nutrisi bakteri
  4. Media bakteri (tingkat kekasaran)
  5. Fase Pertumbuhan (Exponential / Log Phase)

Sel-sel pada bakteri mengalami pembelahan atau berkembangbiak sehingga jumlah bakteri semakin meningkat. Hal ini bergantung kepada optimalnya fase adaptasi.

  1. Fase Stasioner (Stationary Phase)

Pada fase ini jumlah bakteri yang hidup dan mati dalam keadaan seimbang atau laju pertumbuhan sebanding dengan laju kematian bakteri.

  1. Fase Kematian (Death Phase)

Pada fase ini laju kematian bakteri lebih besar daripada laju pertumbuhan bakteri. Hal tersebut terjadi akibat dari kondisi lingkungan yang tidak mendukung terhadap pertumbuhan bakteri.

 

Pada alat bioreaktor proses biologi terjadi dalam dua kondisi dan dua jenis bakteri yaitu :

  1. Anaerob

Pada proses anaerob ini bakteri yang digunakan adalah bakteri anaerob atau jenis bakteri yang tidak membutuhkan suplai oksigen dalam proses penguraian polutan pada limbah atau pun dalam kelangsungan hidupnya. Bakteri ini tidak dapat tumbuh dalam suasana terdapat O2  atau zat asam.

  1. Aerob

Pada kondisi ini bakteri yang digunakan adalah jenis bakteri aerob yaitu bakteri yang membutuhkan suplai oksigen dalam melakukan proses penguraian polutan. Pada tahap ini ditambahkan pompa blower sebagai pensuplai oksigen.

Pada alat bioreaktor proses anaerob dan aerob dapat dikombinasikan tergantung pada jenis limbah yang akan diolah, ataupun salah satu proses saja yang digunakan.

 

Nutrisi/Starter Bakteri Untuk Ipal Metoda Biologi

Untuk Ipal Komunal Kami PT. Banyu Biru Berkah Sejati merancang mesin Bioreaktor yang didalam nya beberapa kategori sistem proses pengolahan :

Proses Pengolahan sistem Anaerob

Proses pengolahan sistem anaerob

Proses Pengolahan sistem Anaerob dan Aerob

Proses pengolahan sistem anaerob adalah suatu proses tahapan alami secara grafitasi dengan sistem penguraian limbah dilakukan atau dilengkapi media bakteri pengurai , yang mana bakteri pengurai tersebut hanya mengandalkan udara alami sebagai oksigen untuk bakteri itu hidup.

Kelemahan sistem ini adalah bakteri tidak dapat hidup maksimal karena oksigen untuk kembang biak bakteri sangat minim, hanya mengandalkan ventilasi alami, untuk itulah diperlukan perawatan atau penambahan bakteri secara waktu berkala agar populasi bakteri tetap terjaga, dan kelemahan lainnya adalah endapan hasil uraian yang berada di ruang akhir unit pengolahan harus di angkat atau disedot dengan jangka waktu tertentu. Read more

Bioreaktor Untuk Limbah Medis

Bioreaktor merupakan suatu alat atau tempat dimana terdapat suatu proses biologi di dalamnya. Proses biologi itu terjadi berkat adanya mikroorganisme dan komponen pendukung lainnya. Proses biologi ini sangatlah penting karena merupakan tujuan utama agar dapat menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan dari air limbah yang diolah. Mikroorganisme yang digunakan baik itu bakteri anaerob atau bakteri aerob. Bakteri memiliki fase dalam proses pengolahan biologi, yaitu terdiri dari empat fase yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Urutan fase tumbuh bakteri :

  1. Fase Adaptasi (Lag Phase)

Merupakan fase dimana bakteri beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Proses adaptasi ini berlangsung dari mulai satu jam sampai dengan beberapa hari. Kemampuan beradaptasi bakteri bergantung pada :

  1. Jenis bakteri
  2. Umur biakan
  3. Nutrisi bakteri
  4. Media bakteri (tingkat kekasaran)
  5. Fase Pertumbuhan (Exponential / Log Phase)

Sel-sel pada bakteri mengalami pembelahan atau berkembangbiak sehingga jumlah bakteri semakin meningkat. Hal ini bergantung kepada optimalnya fase adaptasi.

  1. Fase Stasioner (Stationary Phase)

Pada fase ini jumlah bakteri yang hidup dan mati dalam keadaan seimbang atau laju pertumbuhan sebanding dengan laju kematian bakteri.

  1. Fase Kematian (Death Phase)

Pada fase ini laju kematian bakteri lebih besar daripada laju pertumbuhan bakteri. Hal tersebut terjadi akibat dari kondisi lingkungan yang tidak mendukung terhadap pertumbuhan bakteri.

Pada alat bioreaktor proses biologi terjadi dalam dua kondisi dan dua jenis bakteri yaitu :

  1. Anaerob

Pada proses anaerob ini bakteri yang digunakan adalah bakteri anaerob atau jenis bakteri yang tidak membutuhkan suplai oksigen dalam proses penguraian polutan pada limbah atau pun dalam kelangsungan hidupnya. Bakteri ini tidak dapat tumbuh dalam suasana terdapat O2  atau zat asam.

  1. Aerob

Pada kondisi ini bakteri yang digunakan adalah jenis bakteri aerob yaitu bakteri yang membutuhkan suplai oksigen dalam melakukan proses penguraian polutan. Pada tahap ini ditambahkan pompa blower sebagai pensuplai oksigen.

Pada alat bioreaktor proses anaerob dan aerob dapat dikombinasikan tergantung pada jenis limbah yang akan diolah, ataupun salah satu proses saja yang digunakan.

08112229772

081910488630

banyubiruberkahsejati@gmail.com

konsultanipalbandung@gmail.com

www.banyubiruberkahsejati.co.id

Bioreaktor Untuk Limbah Domestik

Bioreaktor merupakan suatu alat atau tempat dimana terdapat suatu proses biologi di dalamnya. Proses biologi itu terjadi berkat adanya mikroorganisme dan komponen pendukung lainnya. Proses biologi ini sangatlah penting karena merupakan tujuan utama agar dapat menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan dari air limbah yang diolah. Mikroorganisme yang digunakan baik itu bakteri anaerob atau bakteri aerob. Bakteri memiliki fase dalam proses pengolahan biologi, yaitu terdiri dari empat fase yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Urutan fase tumbuh bakteri :

1. Fase Adaptasi (Lag Phase)

Merupakan fase dimana bakteri beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Proses adaptasi ini berlangsung dari mulai satu jam sampai dengan beberapa hari. Kemampuan beradaptasi bakteri bergantung pada :

  • Jenis bakteri
  • Umur biakan
  • Nutrisi bakteri
  • Media bakteri (tingkat kekasaran)

2. Fase Pertumbuhan (Exponential / Log Phase)

Sel-sel pada bakteri mengalami pembelahan atau berkembangbiak sehingga jumlah bakteri semakin meningkat. Hal ini bergantung kepada optimalnya fase adaptasi.

3. Fase Stasioner (Stationary Phase)

Pada fase ini jumlah bakteri yang hidup dan mati dalam keadaan seimbang atau laju pertumbuhan sebanding dengan laju kematian bakteri.

4. Fase Kematian (Death Phase)

Pada fase ini laju kematian bakteri lebih besar daripada laju pertumbuhan bakteri. Hal tersebut terjadi akibat dari kondisi lingkungan yang tidak mendukung terhadap pertumbuhan bakteri.

Pada alat bioreaktor proses biologi terjadi dalam dua kondisi dan dua jenis bakteri yaitu :

  1. Anaerob

Pada proses anaerob ini bakteri yang digunakan adalah bakteri anaerob atau jenis bakteri yang tidak membutuhkan suplai oksigen dalam proses penguraian polutan pada limbah atau pun dalam kelangsungan hidupnya. Bakteri ini tidak dapat tumbuh dalam suasana terdapat O2  atau zat asam.

  1. Aerob

Pada kondisi ini bakteri yang digunakan adalah jenis bakteri aerob yaitu bakteri yang membutuhkan suplai oksigen dalam melakukan proses penguraian polutan. Pada tahap ini ditambahkan pompa blower sebagai pensuplai oksigen.

Pada alat bioreaktor proses anaerob dan aerob dapat dikombinasikan tergantung pada jenis limbah yang akan diolah, ataupun salah satu proses saja yang digunakan.

Untuk memenuhi kebutuhan Ipal Domestik anda hubungi dan Kunjungi :

IPAL RUMAH SAKIT

Rumah sakit merupakan fasilitas kesehatan dimana terdapat kegiatan yang menghasilkan limbah medis. Limbah medis ini terdiri dari limbah cair dan limbah padat. Dimana untuk limbah cair ini dilakukan pengolahan dengan menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) baik itu milik sendiri atau pun dengan melakukan kerjasama dengan pihak ketiga. Hal tersebut perlu dilakukan karena kandungan pada limbah cair medis ini berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Berikut adalah peraturan yang mewajibkan rumah sakit untuk melakukan pengolahan air limbah.

Read more

IPAL PUSKESMAS

Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan dimana terdapat kegiatan yang menghasilkan limbah medis. Limbah medis ini terdiri dari limbah cair dan limbah padat. Dimana untuk limbah cair ini dilakukan pengolahan dengan menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Hal tersebut perlu dilakukan karena kandungan pada limbah cair medis ini berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Berikut adalah peraturan-peraturan yang menganjurkan puskesmas untuk melakukan pengolahan air limbah puskesmas :

PerMenKes RI No 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat

PerMenKes RI No 37 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat

Bentuk pengolahan limbah cair medis puskesmas ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat bioreaktor dimana menggunakan teknologi biofilter dalam melakukan pengolahan air limbah. Biofilter adalah teknologi pengolahan limbah cair dengan memanfaatkan mikroorganisme sebagai pengurai polutan. Efisiensi biofilter bergantung pada luas kontak antara air limbah dengan mikro-organisme yang menempel di permukaan media filter, kekasaran media, dan waktu tinggal air limbah. Biofilter ini dapat mengurangi konsentrasi BOD, COD, suspended solids (SS), deterjen (MBAS), ammonium dan posphor.

Proses bioreaktor ini berlangsung dalam beberapa tahap pengolahan, seperti yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Read more

Pengolahan Ipal Metoda Biologi

Pengolahan Air Limbah dengan Metoda Biologi

Pada era globalisasi saat ini, pengelolaan lingkungan telah menjadi topik yang menarik perhatian berbagai pihak karena berhubungan dengan prduktivitas dan pembangunan berkelanjutan serta berdampak pada kelestarian alam kita, banyak cara yang telah dilakukan untuk mengembalikan kelestarian alam kita,  antara lain dengan menanam hutan kembali yang dapat membantu menjernihkan udara dan menstabilkan struktur tanah. Read more

Cara Pengolahan limbah

Pengolahan Dan Penanganan Limbah

Penanganan limbah yang baik akan menjamin kenyamanan bagi semua orang. Dipandang dari sudut sanitasi, penanganan limbah yang baik akan :

  • Menjamin tempat tinggal/tempat kerja yang bersih
  • Mencegah timbulnya pencemaran lingkungan
  • Mencegah berkembang biaknya hama penyakit dan vaktor penyakit

Penanganan limbah padat

Limbah padat dapat dihasilkan dari industri, rumah tangga, rumah sakit, hotel, pusat perdagangan/restoran maupun pertanian/peternakan, penanganan limbah padat melalui beberapa tahap, yaitu :

  • Penampungan dalam bak sampah
  • Pengumpulan sampah
  • Pengangkutan
  • Pembuanga di TPA

Read more